Kamp Leogore dan Lahan tiga hektar
media @ 9:10 PM


LL edisi 63 Agustus 2006

Bernadus Bau : ......Kami merasa takut jangan sampai suatu saat pemerintah desa suruh kami pindah dari lokasi ini dan kami tidak punya tanah, kami mau kemana.......

By Theo Wetangterah

Kamis, 10 Agustus 2006 saya bersama Elen dan Anton mengunjungi kamp Leogore. Untuk mencapai lokasi ini kami membutuhkan waktu 15 menit perjalanan.

Kamp Leogore adalah salah satu kamp yang terletak di Desa Lakekun Utara, sebuah desa yang berada di Kecamatan Kobalima Kabupaten Belu. Hingga sekarang kamp ini masih ditempati lebih dari 20 KK warga baru yang berasal dari dusun Leogore, Desa Olpilak-Suai.

Bagi saya mengunjungi lokasi ini merupakan kali kedua. Pertama kali saya mengunjungi lokasi ini pada tahun 2005 dengan maksud melakukan peliputan untuk berita LL edisi 45 tentang upaya negosiasi lahan yang dilakukan oleh warga eks pengungsi di kamp Raimea, yang sekarang sudah menempati pemukiman yang dibangun diatas tanah mereka.

Tepat pukul 10.00 Wita kami tiba kamp ini. Penghuni kamp terlihat sudah berkumpul di rumah milik Bernadus Bau selaku koordinator kamp. Kami disambut dengan sebuah kalimat yang dilontarkan oleh seorang bapak yang menghampiri kami. ....Siang ibu.., kami pikir tidak jadi....., ujarnya sambil mendampingi kami menuju rumah pak Barnadus.

Hari itu mereka berkumpul karena akan membahas rencana pemindahan ke lokasi yang sudah mereka beli. Untuk menjaga agar pertemuan itu berjalan dengan baik, Elen dan Anton yang adalah SW (pekerja kemanusiaan-red) OXFAM GB-West Timor, memimpin pertemuan siang itu.

Karena merasa tidak punya kepentingan dalam pertemuan itu, saya berjalan melihat-lihat kondisi kamp disiang itu. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat gubuk di kamp itu tidak berbeda dengan kamp-kamp lain yang pernah saya temui, dindingnya terbuat dari bebak, atapnya dari daun-daunan gebang dan berlantaikan tanah. Hanya ada dua rumah yang atapnya dari seng.

Kurang lebih satu setengah jam mereka sudah menyelesaikan pertemuan disiang itu dengan menghasilkan beberapa kesepakatan diantaranya akan ada bantuan yang diberikan oleh Oxfam GB kepada mereka serta kesepakatan soal waktu kerja dan upaya mandiri komunitas untuk melengkapi bahan-bahan yang kurang. Elen dan Anton berpamitan kepada mereka karena harus mengunjungi lokasi Loodik, sebuah lokasi pemukiman mandiri, sementara saya masih bersama dengan warga di tempat itu.

Setelah memperkenalkan diri serta menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan saya, Bernadus Bau dan beberapa pria terus mendampingi saya sambil memberikan informasi yang saya butuhkan.

....Sebenarnya apa alasan bapak dong negosiasi tanah....? tanya saya sambil menyodorkan tape recorder sony diatas sebuah meja yang ada didepan saya.

Menyadari bahwa ia sudah diwawancarai Bernadus Bau mendekatkan dirinya dengan meja itu. ......Kalau kami sudah menempati tanah ini sejak 1999, dan ini adalah tanah kas desa. Karena kami merasa takut jangan sampai suatu saat pemerintah suruh kami pindah dari lokasi ini dan kami tidak punya tanah, kami mau kemana...., ujarnya mengawali perbincangan siang itu.

Dengan rasa ketakutan itu pada tahun 2004 mereka mencoba mencari tanah. Awalnya pencaharian tanah dilakukan di Desa Lakekun Induk sebuah desa yang berseblahan dengan desa mereka, namun mereka gagal karena tidak ada kecocokan harga antara mereka dan pemilik tanah. Kegagalan itu tidak membuat mereka menjadi patah semangat namun mereka terus dan terus mencari.

Pencarian mereka selama satu tahun akhirnya membuahkan hasil. Memasuki tahun 2005 mereka bisa tersenyum karena usaha mereka tidak sia-sia.

......Mungkin karena mereka mendengar kami ada cari tanah, ada pemilik tanah yang datang untuk menawarkan mereka punya tanah. Merasa ini adalah kesempatan yang baik lalu kami pergi lihat lokasi. Setelah melihat lokasi masyarakat semuanya setuju makanya kami melakukan negosiasi dengan Martinus Lelo, Remigius Bau dan Manuel Bau selaku pemilik lahan......

Berapa luas tanah yang diperoleh... ? potong saya, sebelum ia mengakhiri pembicaraannya

.....Kalau untuk tanah yang kami peroleh itu luasnya hampir mencapa tiga hektar. Dengan ukurang masing-masing 100x25 m² pemilinya Martinus lelo, Remigius Bau ukurannya 100x50 m² serta Manuel Bau dengan ukuran 100x50 m². Dan tanah itu masih masuk dalam kawasan desa Lakekun utara, jaraknya hanya satu kilo dari sini..., sambung Moses Talo yang duduk disamping kanan saya.

Edisi Lengkap dapat dilihat disisni ---------> LL_63.pdf


|

alamat kontak

CIS Timor
Jl.KB.Lestari No.11, Kota Baru, Walikota, Kupang
Nusa Tenggara Timur
Tel/Fax. 0380-833210
e mail : cis_timor@telkom.net

Navigasi

lorosae lian

10 tulisan terakhir

  • Dari Benoka Sampai Sorosikun
  • Suguhan Kerapu Bakar di Tulakaboak
  • JADUP untuk Kebutuhan Komunitas
  • Penerimaan Warga Lama Kunci Keberhasilan Sebuah In...
  • Awal perjalanan menuju Halifunan-Bortetuk
  • Belajar dari Halifunan-Bortetuk
  • Cerita dari Babulu Selatan
  • 50 KK Eks Timor-Timur Dari Naibonat Dan Tuapukan
  • Manusak; "Kanaan" baru bagi eks pengungsi
  • RIK; Dari Penerima Informasi Ke Aktor Informasi
  • arsip tulisan

  • October 2005
  • March 2006
  • May 2006
  • June 2006
  • August 2006
  • September 2006
  • October 2006
  • May 2007
  • June 2007
  • January 2008
  • January 2009
  • sapa kami

    # pengunjung

    web counter
    web counter

    Media Alternatif

    LL_81.pdf

    LL_80.pdf

    LL_79.pdf

    LL_78.pdf

    LL_77.pdf

    LL_76.pdf

    LL_75.pdf

    LL_74.pdf

    LL_73.pdf

    LL_50.pdf

    Copyright ©2005 cis timor. All rights reserved | designed by : okke