![]() |
|
|
Kerja Keras, Kunci Keberhasilan
(LL Edisi 64 September 2006) Marcello Soares : Jadi kalau mau supaya berhasil ya kita harus kerja dulu supaya orang lihat bahwa mereka sudah usaha jadi bagaimana, kita bisa bantu ko?? Oleh : Theo Wetangterah Kaos berkerah warna coklat bergaris hitam di padu celana kain warna coklat yang sudah sedikit lusuh dikenakannya sore itu. Matanya masih terlihat sayu karena baru bangun dari tidur siangnya. Maaf pak, kemarin datan (datang-red) tapi saya tidak ada, ujarnya saat mengetahui bahwa orang yang mencarinya adalah saya dan Jecko. Biasalah urusan keluarga, jadi kita harus ikut kalau tidak na sudah salah, senyumnya sedikit mengembang. Marcello Soares (45 thn), nama pria itu. Biasanya ia disapa pak Marselo. Pria kelahiran Ermera ini dipercayakan penghuni pemukiman mandiri Asu Ulun I sebagai koordinator mereka. Pemukiman mandiri Asu Ulun I ditempati 40 KK, yang dulunya saat eksodus tahun 1999 bersama 57 KK lainnya yang baru pindah sekarang menempati lokasi Asu Ulun II memilih kamp terminal Lolowa sebagai tempat pengungsian mereka. Persoalan tanah tempat tinggal, merupakan masalah mereka bersama waktu masih menempati kamp Lolowa. Karena merasa sangat sulit untuk mencari tanah yang bisa menampung lebih dari 100 KK, akhirnya mereka putuskan untuk membagi dalam dua kelompok yang di koordinir oleh Marsello Soares dan Victor Borges. Memang proses itu kami sama-sama sepakat mulai tahun 2004, kami sepakat bahwa harus bagi dua kelompok. Waktu awal itu yang ikut pak Victor negosiasi di SMP III, sedangkan saya dan 40 KK ke Asu Ulun. Namun akhirnya mereka tidak berhasil, kita yang berhasil, pada hal mereka punya uang sudah terkumpul dua juta lebih sedangkan kita waktu itu baru 500 ribu, kenang Marcello Soares. Berbicara soal proses jual beli tanah Marcello dan 39 KK lainnya mempunyai ceritra tersendiri, bermodalkan pofesi sebagai petani dan kuli bangunan mereka mampu untuk menghasilkan sebuah pemukiman yang lahak huni. Saya pernah bilang di mereka (57 KK eks pengungsi yang baru pindah ke lokasi Assulun II), bapak dong harus bersyukur karena dapat bantuan BLT BBM untuk beli tanah ini, kalau kami yang 40 KK ini, ibu-ibu jual sayur, kami laki-laki ada proyek dimana kami pergi untuk kerja dan uangnya itu yang kami kumpul-kumpul baru kami beli tanah ini. Dari hasil negosiasi itu Marcello dan 40 KK lainnya memperoleh lahan seluas 50x79m², yang kini sudah di penuhi bangunan rumah hasil karya mereka sendiri, yang lebih layak jika di bandingkan waktu masih di kamp. Waktu dong lihat ini rumah dong bilang apa ? Mereka bilang coba kalau itu hari kita sama-sama dengan 40 KK ini mungkin kita sudah masuk rumah begini, sekarang kita sudah terlambat. ....Jadi saya bilang semua ini tergantung dari kita saja, kalau kita mau untuk maju ya kita harus berusaha jangan kita hanya tunggu bantuan dari pemerintah karena pemerin-tah itu tidak perhatikan kita sendiri saja, pemerintah juga lihat orang lain..e..e. jadi kalau kita mau supaya pemerintah lihat kita, saya bilang kita harus rela dulu, rela korban dulu sudah dapat tanah baru kita usul ke pemerintah, ujar Marselo dengan mimik serius sambil menggerakan kedua tangannya. Kesuksesan ini diperoleh mereka bukan karena hasil usaha mereka sendiri tapi juga lewat kerjasama dengan saudara-saudara mereka yang masih menempati kamp Lolowa termasuk didalamnya 57 KK warga baru Asu Ulun. Kita siap untuk bantu mereka e.. karena waktu kita kerja kita punya rumah dulu itu mereka ada bantu, jadi kalau mereka ada kerja nanti kita harus bantu kerja. Kita kan masih ada hubungan keluarga. Kalau dukungan tempat tinggal sementara ? Kalau memang mereka mau kasih tidur anak-anak dengan ibu-ibu bisa datang di kita supaya kita bisa bantu, karena mereka bukan orang lain. Terus mereka ada minta kita punya bahan rumah yang dulu kita bangun sementara itu dan mereka akan gunakan lagi disana waktu mereka pindah, ujar pria kelahiran Ermera 45 tahun silam. Bagi Marselo untuk membangun satu kehidupan baru tidak hanya membutuhkan keseriusan tapi juga butuh pengorbanan dan kerja keras. Kalau kita mau supaya sama dengan 40 KK ini kita harus banting tulang, harus kerja keras baru bisa dapat rumah seperti ini. Kami punya proses dari tahun 2004 sampai 2005 dengan uang sendiri. Jadi kalau mau supaya berhasil ya kita harus kerja dulu supaya orang lihat bahwa mereka sudah usaha jadi bagaimana, kita bisa bantu ko..., imbuhnya mengakhiri jumpa kami sore itu. |
CIS Timor web counter LL_81.pdf LL_80.pdf LL_79.pdf LL_78.pdf LL_77.pdf LL_76.pdf LL_75.pdf LL_74.pdf LL_73.pdf LL_50.pdf |