![]() |
|
|
.:: Perempuan dan RPKM ::.
"Mencoba melihat peran perempuan dalam peningkatan kesehatan masayarakat lewat peran sebagai Relawan Penyuluh Kesehatan Masyarakat di lokasi-lokasi proyek ATUP" Oleh : Olkes Dadi Lado ![]() Salah satu kegiatan dalam proyek Aid To Uprooted people (ATUP) tahap II ini adalah promosi kesehatan umum dan pembangunan saran air dan sanitasi lingkungan, untuk itu salah satu caranya adalah melakukan perekrutan dan melatih Relawan Penyuluh Kesehatan Masyarakat atau lebih sering disingkat RPKM, ada juga yang menyebut sebagai kader. RPKM adalah salah satu strategi untuk membangun kapasitas SDM di komunitas dampingan dan tentunya adalah mempermudah mendaratnya tujuan kegiatan-kegiatan promosi kesehatan. Sayangnya, baik selama ATUP I maupun ATUP II, RPKM masih didominasi oleh kaum perempuan, hampir 80% RPKM adalah perempuan sedangkan komite air justeru kebalikannya didominasi oleh laki-laki. Mengapa..? Saya tak mampu menjawabnya secara pasti. Saya hanya bisa menampilkan beberapa temuan saya yang tentu saja tak bisa jadi satu-satunya kebenaran. Pertama, masalah kesehatan masih sangat kuat dalam pandangan masyarakat sebagai urusan perempuan. Mungkin dipengaruhi oleh citra bidan di desa-desa, bisa juga perawat di rumah sakit yang kebanyakan adalah perempuan ( berdasarkan pandangan mata saja) sekalipun sekarang sudah banyak juga laki-laki yang berprofesi sebagai perawat. Ini menyebabkan ketika ada tawaran untuk direkrut sebagai RPKM, para koordinator selalu merekomendasikan perempuan ketimbang laki-laki. Kedua, karena memang hanya perempuan yang peduli terhadap kesehatan sehingga tanpa direkomendasikan oleh para koordinator-pun ia dengan sendirinya bersedia. Lihat saja siapa yang paling peduli dengan jam makan atau mandi anak dalam rumah? Siapa yang paling peduli dan cepat tanggap ketika seorang anak sakit? Pasti paling banyak adalah ibu-ibu yang adalah perempuan. Itu dua hal yang saya rasa mungkin menjadi penyebab RPKM dalam proyek ATUP ini kebanyakan, perempuan. Pertanyaannya, apakah ini masalah? Apakah ini tidak mengarusutamakan gender? Banyak kemungkinan jawaban, tergantung kepentingan masing-masing orang. Menurut saya bisa ya bisa juga tidak jadi masalah. Saya tak mau melihatnya hanya sebatas pada masalah angka semata, tapi mari kita melihat lebih jauh lagi. Menurut saya, akan menjadi masalah jika; Pertama, ketika RPKM yang perempuan itu melakukan tugas dan fungsinya, ia tidak dihargai atau dihormati oleh warga terutama para lelaki. Pengakuan mama Rosa Ximenes (baca LL edisi kali ini pada rubrik info sektor hal 9-10) bahwa dalam setiap kali penyuluhan untuk orang dewasa kehadiran bapak-bapak sangat sedikit dibanding ibu-ibu. Ini berarti warga hanya memandang dia bukan sebagai RPKM tetapi sebagai seorang perempuan. Kedua, tugas sebagai RPKM justeru menambah beban kerja dalam rumah tangganya dan laki-laki tidak mau menggantikan peran lain dalam rumah tangga agar beban itu menjadi lebih berimbang. Tidak menjadi masalah jika; Pertama, semua warga mau menghargai dan menghormati RPKM ketika menjalankan tugas dan fungsinya. Karena menurut saya ketika hal ini terjadi maka yang dipandang oleh warga adalah RPKM-nya bukan perempuan atau laki-laki. Kedua, Jika penambahan tugas dan fungsi sebagai RPKM juga ikuti dengan tata ulang pembagian peran dalam rumah tangga sehingga tidak menambah beban kerja bagi perempuan yang menjadi RPKM itu. Satu hal kecil saja yang kita lakukan seperti selalu membuang sampah pada tempatnya, sudah sangat berarti bagi peningkatan taraf kesehatan masyarakat termasuk di dalamnya membantu mengurangi beban ganda pada perempuan terutama ibu-ibu yang lebih sibuk saat ada anak-anak atau anggota keluarga lainnya yang menderita sakit. Dalam pandangan proyek ATUP, RPKM adalah ujung tombak dalam upaya membangun perilaku hidup sehat di komunitas. Karena itulah RPKM yang direkrut adalah anggota komunitas itu. Maka harus disadari bahwa RPKM yang ada di lokasi-lokasi proyek ATUP I dan II adalah pelopor atau agen kesehatan yang akan memberi contoh dan mendorong timbulnya pola hidup yang lebih sehat di tengah-tengah masyarakat dan jika suatu saat nanti terjadi seperti yang diharapkan yakni masyarakat menjadi sadar dan taraf kesehatan-nya meningkat maka RPKM yang kebanyakan perempuan itulah yang patut diacungi jempol.
|
CIS Timor web counter LL_81.pdf LL_80.pdf LL_79.pdf LL_78.pdf LL_77.pdf LL_76.pdf LL_75.pdf LL_74.pdf LL_73.pdf LL_50.pdf |